Kamis, 12 April 2018

Pecah pembuluh darah di otak

20 Juni 2015. Kira-kira hari kedua puasa di tahun 2015. Seperti biasa, saya tidur pukul 21.00. Pukul 02.00 mamah memanggil nama saya, saya pun terbangun dan bergegas ke bawah. Kebetulan kamar saya di atas dan kamar orangtua saya di bawah. Saya menuruni anak tangga lalu saya dapati pintu kamar ayah dan mamah sudah terbuka. Mamah sedang mengusap punggung ayah. Ayah menangis. Saya pun bingung. Tidak lama, pembantu dan dua adik saya bangun juga.
Mamah membuka obat lalu disuruhnya ayah meminum obat itu. Mamah pun langsung bilang kepada saya untuk membawa ayah ke rumah sakit. Saya diajak mamah untuk ikut. Saya pun bergegas langsung ganti baju, tidak lupa cuci muka dan gosok gigi terlebih dahulu.
Kira-kira pukul 02.10 kami pun pergi, hanya saya ayah dan mamah. Posisinya mamah yang menyetir, karena saya belum bisa. Ayah pun duduk di depan mendampingi mamah. Posisi duduk saya di belakang. Mamah membawa mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi, kisaran 70-80 km/jam. Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke Rumah Sakit Pertamedika Sentul. Kali pertama saya kesana. Saya baru tau ada rumah sakit di Sentul.
Saat memasuki gerbang rumah sakit, mamah langsung memberhentikan mobilnya di UGD. Ditanya oleh satpam dan ayah pun langsung dibawa masuk ke ruang UGD. Mamah mendampingi ayah bersama saya. Mobil pun diparkirkan oleh satpam.
Ayah diperiksa terlebih dahulu oleh dokter jaga di UGD. Saya hanya duduk di tempat tidur pasien yang kosong. Mamah terus mendampingi ayah. Saya melihat ayah terus menerus. Ayah hanya bisa pasrah dengan tatapan yang sedih. Lalu suster pun tensi tekanan darah ayah, tensinya cukup tinggi yaitu 220/170. Ayah pun dipasang alat khusus untuk memonitor tekanan darah, jadi nanti monitornya akan mengecek tensi ayah setiap 5-10 menit sekali.
Tidak lama dokter jaga pun menghampiri mamah dan menyuruh mamah untuk mengobrol dengannya. Diketahui saat diperiksa tadi, diagnosa awal ayah terkena stroke dan untuk mengetahui lebih dalam dan separah apa stroke nya kami pun harus segera melakukan berbagai pengecekan yang mendukung, seperti CT SCAN, X-Ray dll nya saya lupa apa saja yang saya ingat hanya itu.
Ayah pun dipasang berbagai macam alat ditubuhya. Infusan, oksigen, dan beberapa kabel yang saya tidak paham itu apa maksudnya. Mamah tetap setia mendampingi. Saya melihat mamah begitu lelah. Karena saat itu sedang bulan puasa, kami pun dikejar waktu untuk sahur. Jam sudah menunjukan pukul 03.00. Ayah pun segera di bawa ruangan khusus untuk CT-SCAN, kami hanya menunggu diluar dan tidak boleh masuk. Peralatan ayah yang berbau besi harus dilepas, jam tangan, cincin juga.
Kami menunggu diluar dengan harap-harap cemas. Tidak begitu lama saat ayah di periksa. Sekitar pukul 04.00 ayah sudah dibawa ke ruang UGD lagi. Dokter pun menyuruh mamah untuk berbicara. Ketahuan lah ternyata ayah mengalami PECAH PEMBULUH DARAH DI BAGIAN OTAK DAN PECAHNYA PEMBULUH DARAHNYA CUKUP BESAR. Dokter langsung mengambil tindakan untuk memasukan ayah ke ruang ICU saat itu juga. Mamah kaget, ingin menangis tapi ditahan, karena mamah tau kalau ayah liat mamah nangis pasti ayah makin sedih. Mamah pun segera mengurus administrasi sebelum ke ruang ICU dan saya mendampingi ayah. Ayah sempat bertanya kepada saya, sakit apa ayah. Saya hanya terdiam. Saya tau tapi saya pura-pura tidak tau.
Setelah mamah mengurus administrasi, ayah langsung siap-siap dibawa ke ruang ICU. Ayah sempat bertanya kepada mamah, akhirnya mamah menjelaskan bahwa ayah harus dirawat di ICU. Ayah langsung kaget dan tidak bisa berbuat apa-apa, yang ayah inginkan hanya sembuh dan kembali pulang ke rumah.

Selasa, 10 April 2018

Pemilih untuk bekerja dan menikah


Bersyukur hari ini masih dikasih kesempatan sama Allah untuk hidup. Bisa bernapas, bisa menunaikan shalat, sampai masih bisa bertemu keluarga itu yang patut kita syukuri setiap hari. Semakin hari umur kita semakin berkurang. Umur saya 22 tahun, menjelang 23 tahun di bulan Mei ini. Tentu banyak harapan yang ingin dicapai. Dua diantaranya yaitu kerja dan menikah.
Pemilih. Sebenarnya kerja bisa dimana saja, tapi ya balik lagi ke individu masing-masing. Dalam pikiran saya sih sering mikir macem gini,
“mau jadi apa sih gue?”
“dalam jangka waktu berapa lama nih jenjang karir gue harus naik”
Saya ingin sekali sekarang bekerja. Sudah pernah bekerja juga di salah satu bank swasta. Ada hal yang menyebabkan saya resign pada akhirnya dan saya berpikir sesuatu akan hal itu. Maka dari itu saya memutuskan untuk lebih selektif dalam mengambil pekerjaan.
Tidak hanya saya saja yang pemilih. Sifat “pemilih” diturunkan oleh ayah. Ayah termasuk orang yang sangat pemilih. Ayah sering bercerita kepada saya, kenapa ayah cukup lama untuk menikah, ya alasannya karena ayah memilih pasangan yang baik dan beberapa sudut pandang yang menurut ayah “cocok dijadikan pendamping hidup”.
Tidak hanya dalam pekerjaan. Dalam mencari pasangan menurut saya harus sifat “pemilih”. Kenapa kita harus pemilih juga? Baik bekerja dan menikah dilakukan untuk masa depan. Masa depan membicarakan hal jangka panjang. Tidak hanya berbulan bulan, 1 tahun 3 tahun tapi bertahun-tahun. Biasanya di perusahaan masa bekerja kita maksimal selama 25 tahun. Untuk menikah? Insyallah sampai hayat memisahkan.
Riskan sekali jika kita kadang terlalu pemilih. Ada pepatah yang mengatakan, terimalah kekurangan pasanganmu atau terimalah apa yang ada di depan matamu. Ya memang namun apa salahnya kita menunggu “sebentar” untuk mendapatkan yang terbaik. Saya selalu berpikir, saya lama mendapat pekerjaan. Tapi saya hubungkan lagi dengan masa-masa saat saya sudah bekerja di waktu itu di bank, ada beberapa keluhan dalam diri saya. Saya belajar, jika saya mengambil pekerjaan yang sama dengan yang lama, kejadian seperti ini akan terulang kembali. Saya berpikir untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, yang sesuai dengan passion saya.
Sama seperti bekerja, pasangan juga diwajibkan untuk memilih. Setiap orang berhak untuk memilih dan dipilih. Saya juga sama. Saya berpikir kepada teman-teman saya yang sudah menikah hidupnya “enak”. Kemana-mana berdua dengan suami yang sudah halal, kehidupannya juga seru gitu. Kadang pengen sih saya seperti itu. Rumah jadi lebih rame, ada anggota keluarga baru yang bisa menambah seru juga. Dalam “kacamata” saya juga seperti tidak ada beban. Apalagi yang sudah hamil, bahkan sudah memiliki anak.
Tapi namanya juga hidup, tidak melulu sesuai dengan rencana kita, kita sebagai manusia hanya bisa berencana, namun perencana yang baik dan segalanya hanya milik yang Kuasa. Saya mengerti betul rasanya sudah berharap akan “serius” dengan seseorang namun terhalang oleh restu orangtua. Kami pun akhirnya putus. Dalam jangka waktu yang tidak sebentar, kebiasaan yang tadinya berdua dengan pacar pun harus dijalani sendiri. Dari situlah say a berpikir realistis.
MENIKAH TIDAK HANYA MENYATUKAN SAYA DAN KAMU, TAPI KELUARGA KITA BERDUA.
Semenjak dari kejadian itu, saya jadi agak malas untuk berhubungan yang mengarah untuk “pacaran”. Takut sia-sia, sama seperti kejadian saya dahulu dan untuk pribadi saya, itu juga dosa. Saya yang tau porsi dosa saya, jadi kalau saya sekarang lebih berpikir untuk menghindari dosa juga itu hak saya. Kalau memang ada laki-laki yang menyukai saya dan mau “tanggungjawab” dengan  saya dan keluarga saya, ya datang saja ke rumah. Memang sih gak begitu tiba-tiba datang. Kita juga harus lebih berusaha, berdoa juga dan  berikhtiar.
Waktu itu ada cerita lucu pada saat saya ke acara jobfair Universitas Indonesia. Kebetulan saya waktu itu sendiri kesana untuk mencoba melamar kerja. Saya yakin rejeki sudah ada yang mengatur. Saya tidak berpikir aneh-aneh. Datanglah saya kesana. Sesampainya saya di UI, antrian sudah mengular panjang untuk sampai ke pintu masuk. Saya pasrah kan untuk mengantri, tidak lama ada panitia yang memberitahu untuk registrasi bisa dilakukan di handphone. Saya pun masih bingung dengan alamat websitenya, tidak sengaja saya menepuk tas belakang seorang laki-laki untuk bertanya. Dia menoleh. Setelah bertanya soal registrasi, dia mengulurkan tangannya kepada saya untuk berkenalan. Kami pun berkenalan. Sampai pada akhirnya laki-laki itu minta nomor whatsapp saya. inti dari ceritanya, dia tiba-tiba mengajak saya untuk jalan, sekedar nonton film atau minum kopi katanya agar lebih bisa DEKAT DENGAN SAYA. Saya pun kaget. Saya baru pertama kali bertemu tapi responnya terlalu cepat waktu itu. Dia juga menanyakan kepad saya soal kriteria calon suami seperti apayang saya inginkan dan dia mengatakan hal ini,
“gue liat lo pertama kali seneng. Lo orang yang ceria, murah senyum, baik, cewe yang kuat malah. Masa dari ui langsung ke Bandung gitu. Boleh dong ya gue jadi calon suami lo hahahaha”
Kaget ya. Pacar saya dulu aja gak ada omongan buat seserius ini, tapi orang lain dengan mudah berbicara seperti ini. Memang sih keliatannya becanda, tapi dia akhirnya serius karena memang sudah tidak mau lagi pacaran, ingin menikah juga dan kalau dilihat dari umur sih sudah cukup untuk umur menikah. Saya dan dia terpaut umur 3 tahun. Dia sekarang umur 25 tahun.
Keputusan sih ada di ayah. Kebetulan saat saya cerita kepada ayah, ayah menanggapinya dengan santai.
“nanti dulu teh, berteman baik dengan orang gak apa-apa, tapi kalau buat menikah kan banyak pertimbangan. Kalau dilihat dari orangnya sih baik, tanggungjawab, dewasa lagi. Tapi ya sayang....”
Saya sembari memperlihatkan foto laki-laki itu di instagram. Ada hal yang menjadi pertimbangan ayah untuk memilih calon suami untuk saya. Saya tidak bisa sebut disini. Teman dekat saya dan mantan pacar saya juga tau. Kalau bisa diusahain bisa memenuhi syarat itu ayah bersyukur. Tapi kalau tidak ayah juga tidak memaksa, gimana nanti lah ke depan kata ayah menambahkan.
Saya berpikir dan melakukan ini karena ayah. Orangtua saya hanya tinggal ayah. Keputusan ada di ayah juga disamping dari diri saya sendiri, tapi ayah selalu bilang menikah itu mudah tapi menjalaninya yang sulit, apalagi kalau kita gak pilih-pilih. Kalau nanti rumah tangganya kacau karena hal tertentu gimana? Atau baru keliatan “sifat jeleknya” gimana? Apalagi kalau sudah memiliki anak, berat rasanya hari-hari dijalani jika banyak masalah seperti itu.
Saya selalu bersyukur kalau ayah masih ada dan selalu saya ceritakan soal hal macam ini. Beliau juga tau anaknya mau calon yang seperti apa dan bisa dalam pengambilan keputusan juga. Saya yakin, kalau suatu saat nanti ayah setuju dengan seorang laki-laki, pasti itu adalah laki-laki yang terbaik. Restu dari ayah, pasti Allah juga merestui kelak, insyallah ke depannya juga laki-laki itu bisa menjadi imam yang baik ke depannya untuk keluarga saya yang sakinah, mawwadah, dan warahmah aammiinn

Sabtu, 07 April 2018

Untuk Ridzky

KALAU ADA SUKA BERANTEM, KALAU GAK ADA SUKA KANGEN. Pernah denger kata itu gak sih? Biasanya sama keluarga ngalamin kaya gitu. Saya juga pernah rasain itu saat ke mamah dan ke adik ke 2 saya. Kalau ke mamah bukan ke berantem, tapi suka gak mau kalau disuruh dan suka males kalau diomelin hehe kalau sama adik saya yang kedua, sering berantem padahal yang diributin itu hal kecil. Setelah makin berumur, makin ngerti “ngapain sih berantem padahal cuma gitu doang”.
Namanya juga penyesalan ya. Dulu saya bukan orang yang deket sama mamah, karena mamah tipe yang galak tapi sayang, yang bawel tapi ada benernya juga. tahun 2015 mamah dipanggil Sang Pencipta. Gak bisa bayangin saat itu “BENER-BENER GAK ADA YANG BAWEL, GAK ADA YANG MARAH KALAU TIAP PULANG LEBIH DARI 7 MALEM DAN GAK ADA YANG LAIN-LAINNYA.” Ngerasa banget sepi. Sekarang di rumah tinggal ber 4, sama ayah, aa dan caca. Gak ada mamah aja sepi banget, padahal kalau dulu masih ada mamah rumah tuh kaya rame banget. Berarti banget 1 orang gak ada di rumah bisa ngerubah suasana sampe sesepi ini.
KADANG SUKA MIKIR, KENAPA YA ALLAH NGAMBIL MAMAH CEPET BANGET. BELUM JUGA LIAT ANAKNYA LULUS, WISUDA, SAMPE NIKAH ATAU SEKEDAR PARENTING SOAL CUCUNYA NANTI.
Tapi saya baru belajar bersyukur saat tau ada orang yang lebih “sepi” dari saya. RIDZKY. Dia itu temen kelas saya pas kuliah. Gak lama mamah meninggal, ada kabar kalau orangtua Ridzky juga meninggal. Saya kira ibu ATAU bapaknya yang meninggal, tapi saya salah.Ternyata yang meninggal itu adalah Ibu dan bapaknya Ridkzy. SAYA DITINGGAL MAMAH AJA NANGISNYA SEDIHNYA BERLARUT-LARUT, GIMANA INI YANG DITINGGAL 2 ORANGTUA SEKALIGUS. Sempet nanya sama Ridzky kejadiannya gimana. Dan Ridzky mau cerita.
Pernah gak sih kalian denger, biasanya sih denger hal ini kalau lagi ada kajian pendalaman ESQ gitu, kayak kita dibawa buat nangis-nangis gitu dan mikir sesuatu biasanya soal orangtua atau keluarga kita. Saya pernah denger pas ada materi di SMA, motivatornya ngomong dengan kata-katanya gini, “COBA KALIAN BAYANGKAN SAAT KALIAN PULANG KE RUMAH, KALIAN MELIHAT BENDERA KUNING TERPAMPANG DI DEPAN RUMAH KALIAN. KALIAN BINGUNG, SAAT KALIAN MEMASUKI RUMAH, SUDAH BANYAK ORANG YANG BERDOA SEMBARI MENANGIS. KENAPA DI SAYA? SIAPA YANG MENINGGAL?—KALIAN DAPATIN TERNYATA YANG TERBUJUR KAKU DISELIMUTI KAIN BERWARNA COKLAT ITU ADALAH ORANGTUA KALIAN.”
Ridzky tau betul rasanya. Ridzky waktu itu sedang kuliah di Bandung dan dia mendapat kabar dari group smp, saat dia menanyakan ada apa ke kakanya, kaka-kakanya Ridzky tidak berani untuk memberi tahu. Yang penting saat itu, Ridzky harus segera pulang ke Karawang. Dia bingung kenapa semendadak itu, dia bertanya kepada kakanya namun kakanya tidak menjawab. Perasaan Ridzky bingung, dia pun langsung bergegas pulang. Waktu itu Ridzky diantar teman kelas saat kuliah dan teman nongkrong selama kuliah di Bandung. Begitu sampai di Karawang, dia bingung dan kaget sudah ada banyak orang di rumahnya, tidak lama ada mobil ambulance juga menghampiri rumahnya. Dia melihat ada keranda yang diturunkan dari mobil. Dia pun bertanya kepada kakanya dan kakanya tidak juga menjawab hanya menangis. Tidak lama ada mobil ambulance datang lagi ke rumahnya. Ada 2 mobil ambulance datang, Ridzky semakin takut. TERNYATA YANG ADA DI KERANDA ITU ADALAH IBU DAN BAPAKNYA. Saat ibu dan bapak Ridzky terbujur kaku dengan diselimuti kain kafan berwarna putih, Ridzky pun sudah tidak bisa melihat wajah kedua orangtua nya untuk terakhir kali. Hal ini disebabkan karena Ridzky cerita muka dari orangtua nya itu ada yang rusak. Namun Ridzky yakin orangtua nya meninggal dengan keadaan tersenyum menghadap Allah.
Ternyata penyebab meninggal ibu dan bapaknya Ridzky adalah kecelakaan. Kecelakaan itu terjadi di Purwakarta, saya dengar dari Ridzky saat itu ibu dan bapaknya hendak pergi ke suatu tempat. Ibu dan bapaknya Ridzky pergi menggunakan motor. Begitu setia ibunya Ridzky menemani bapaknya. Dan saat itulah takdir keduanya harus menghadap Sang Ilahi. Saat di perjalanan, ada sebuah CONTAINER yang kelebihan muatan posisinya di atas jalan. Kebetulan posisi motor ibu dan bapak Ridzky itu di bawah. Saat CONTAINER melaju dan kelebihan beban, materialnya itu jatuh ke bawah dan mengenai ibu dan bapaknya Ridzky. Saya dengar seperti itu, sempat dibawa ke rumah sakit namun nyawa keduanya tidak tertolong.
Saya yang mendengar cerita dari Ridzky seketika menangis ingat mamah kembali. Ridkzy juga saat menceritakan hal itu pada saya, matanya sudah berkaca-kaca, ingin menangis tapi saya tahu hal itu dia tahan. Coba kalian bayangkan, kalau kalian di posisi Ridzky. Saya saja yang ditinggalkan mamah sedihnya amat sangat, bagaimana ini seorang anak bungsu laki-laki yang DITINGGAL KEDUA ORANGTUANYA SEKALIGUS DALAM SATU WAKTU. Allah tau mana yang terbaik buat hambanya. Allah gak bakal kasih cobaan diluar batas kemampuan kita. Kita cuma bisa berusaha dan berdoa semaksimal mungkin. Kadang kita masih suka gak bersyukur, saya juga saat ada mamah males ini itu, giliran sudah tidak ada kerasa sekali. Bagaimana perasaan Ridzky yang ditinggal ibu dan bapaknya? Kakaknya sudah menikah. Dan dia tinggal sendiri sekarang. Ridzky cerita kepada saya, dia tipe anak laki-laki yang cukup manja kepada ibu bapaknya dan sekarang dia hanya bisa memendam “kemanjaannya” itu saja.
Kalau saya merasa kangen sama mamah, saya suka menghubungi Ridzky sekedar cerita. Ridzky selalu bilang, “WAJAR SIP KALAU LU KANGEN SAMA NYOKAP, GUE JUGA GITU KO. DOAIN AJA TERUS SIP. JADIIN SEMANGAT JANGAN TERPURUK”. Disitulah definisi bersyukur saya. Ada orang yang lebih merasakan “PAHIT” nya hidup sudah tidak ada ibu dan bapak, tapi masih bisa memotivasi orang lain.
Bersyukurlah kalian yang masih “sempet” dimarahin, diomelin, dicerewetin sama ibu dan bapak kalian. Rasanya saat mamah udah ninggalin keluarga, saya merasa omongan mamah benar. hal yang mamah suka bilang kepada saya atau wejangan jangan ini itu benar adanya. Bersyukur dengan hal kecil bisa membuat kita bisa lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang. Semangat buat Ridzky. Insyallah Allah tau kenapa hal ini terjadi sama kita ataupun orang lain diluar sana yang sudah tidak mempunyai ibu/bapak. Lebih menjaga keluarga satu sama lain, lebih menghargai waktu menghargai apa yang diucapkan dan LEBIH BERSYUKUR.