Selasa, 10 April 2018

Pemilih untuk bekerja dan menikah


Bersyukur hari ini masih dikasih kesempatan sama Allah untuk hidup. Bisa bernapas, bisa menunaikan shalat, sampai masih bisa bertemu keluarga itu yang patut kita syukuri setiap hari. Semakin hari umur kita semakin berkurang. Umur saya 22 tahun, menjelang 23 tahun di bulan Mei ini. Tentu banyak harapan yang ingin dicapai. Dua diantaranya yaitu kerja dan menikah.
Pemilih. Sebenarnya kerja bisa dimana saja, tapi ya balik lagi ke individu masing-masing. Dalam pikiran saya sih sering mikir macem gini,
“mau jadi apa sih gue?”
“dalam jangka waktu berapa lama nih jenjang karir gue harus naik”
Saya ingin sekali sekarang bekerja. Sudah pernah bekerja juga di salah satu bank swasta. Ada hal yang menyebabkan saya resign pada akhirnya dan saya berpikir sesuatu akan hal itu. Maka dari itu saya memutuskan untuk lebih selektif dalam mengambil pekerjaan.
Tidak hanya saya saja yang pemilih. Sifat “pemilih” diturunkan oleh ayah. Ayah termasuk orang yang sangat pemilih. Ayah sering bercerita kepada saya, kenapa ayah cukup lama untuk menikah, ya alasannya karena ayah memilih pasangan yang baik dan beberapa sudut pandang yang menurut ayah “cocok dijadikan pendamping hidup”.
Tidak hanya dalam pekerjaan. Dalam mencari pasangan menurut saya harus sifat “pemilih”. Kenapa kita harus pemilih juga? Baik bekerja dan menikah dilakukan untuk masa depan. Masa depan membicarakan hal jangka panjang. Tidak hanya berbulan bulan, 1 tahun 3 tahun tapi bertahun-tahun. Biasanya di perusahaan masa bekerja kita maksimal selama 25 tahun. Untuk menikah? Insyallah sampai hayat memisahkan.
Riskan sekali jika kita kadang terlalu pemilih. Ada pepatah yang mengatakan, terimalah kekurangan pasanganmu atau terimalah apa yang ada di depan matamu. Ya memang namun apa salahnya kita menunggu “sebentar” untuk mendapatkan yang terbaik. Saya selalu berpikir, saya lama mendapat pekerjaan. Tapi saya hubungkan lagi dengan masa-masa saat saya sudah bekerja di waktu itu di bank, ada beberapa keluhan dalam diri saya. Saya belajar, jika saya mengambil pekerjaan yang sama dengan yang lama, kejadian seperti ini akan terulang kembali. Saya berpikir untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, yang sesuai dengan passion saya.
Sama seperti bekerja, pasangan juga diwajibkan untuk memilih. Setiap orang berhak untuk memilih dan dipilih. Saya juga sama. Saya berpikir kepada teman-teman saya yang sudah menikah hidupnya “enak”. Kemana-mana berdua dengan suami yang sudah halal, kehidupannya juga seru gitu. Kadang pengen sih saya seperti itu. Rumah jadi lebih rame, ada anggota keluarga baru yang bisa menambah seru juga. Dalam “kacamata” saya juga seperti tidak ada beban. Apalagi yang sudah hamil, bahkan sudah memiliki anak.
Tapi namanya juga hidup, tidak melulu sesuai dengan rencana kita, kita sebagai manusia hanya bisa berencana, namun perencana yang baik dan segalanya hanya milik yang Kuasa. Saya mengerti betul rasanya sudah berharap akan “serius” dengan seseorang namun terhalang oleh restu orangtua. Kami pun akhirnya putus. Dalam jangka waktu yang tidak sebentar, kebiasaan yang tadinya berdua dengan pacar pun harus dijalani sendiri. Dari situlah say a berpikir realistis.
MENIKAH TIDAK HANYA MENYATUKAN SAYA DAN KAMU, TAPI KELUARGA KITA BERDUA.
Semenjak dari kejadian itu, saya jadi agak malas untuk berhubungan yang mengarah untuk “pacaran”. Takut sia-sia, sama seperti kejadian saya dahulu dan untuk pribadi saya, itu juga dosa. Saya yang tau porsi dosa saya, jadi kalau saya sekarang lebih berpikir untuk menghindari dosa juga itu hak saya. Kalau memang ada laki-laki yang menyukai saya dan mau “tanggungjawab” dengan  saya dan keluarga saya, ya datang saja ke rumah. Memang sih gak begitu tiba-tiba datang. Kita juga harus lebih berusaha, berdoa juga dan  berikhtiar.
Waktu itu ada cerita lucu pada saat saya ke acara jobfair Universitas Indonesia. Kebetulan saya waktu itu sendiri kesana untuk mencoba melamar kerja. Saya yakin rejeki sudah ada yang mengatur. Saya tidak berpikir aneh-aneh. Datanglah saya kesana. Sesampainya saya di UI, antrian sudah mengular panjang untuk sampai ke pintu masuk. Saya pasrah kan untuk mengantri, tidak lama ada panitia yang memberitahu untuk registrasi bisa dilakukan di handphone. Saya pun masih bingung dengan alamat websitenya, tidak sengaja saya menepuk tas belakang seorang laki-laki untuk bertanya. Dia menoleh. Setelah bertanya soal registrasi, dia mengulurkan tangannya kepada saya untuk berkenalan. Kami pun berkenalan. Sampai pada akhirnya laki-laki itu minta nomor whatsapp saya. inti dari ceritanya, dia tiba-tiba mengajak saya untuk jalan, sekedar nonton film atau minum kopi katanya agar lebih bisa DEKAT DENGAN SAYA. Saya pun kaget. Saya baru pertama kali bertemu tapi responnya terlalu cepat waktu itu. Dia juga menanyakan kepad saya soal kriteria calon suami seperti apayang saya inginkan dan dia mengatakan hal ini,
“gue liat lo pertama kali seneng. Lo orang yang ceria, murah senyum, baik, cewe yang kuat malah. Masa dari ui langsung ke Bandung gitu. Boleh dong ya gue jadi calon suami lo hahahaha”
Kaget ya. Pacar saya dulu aja gak ada omongan buat seserius ini, tapi orang lain dengan mudah berbicara seperti ini. Memang sih keliatannya becanda, tapi dia akhirnya serius karena memang sudah tidak mau lagi pacaran, ingin menikah juga dan kalau dilihat dari umur sih sudah cukup untuk umur menikah. Saya dan dia terpaut umur 3 tahun. Dia sekarang umur 25 tahun.
Keputusan sih ada di ayah. Kebetulan saat saya cerita kepada ayah, ayah menanggapinya dengan santai.
“nanti dulu teh, berteman baik dengan orang gak apa-apa, tapi kalau buat menikah kan banyak pertimbangan. Kalau dilihat dari orangnya sih baik, tanggungjawab, dewasa lagi. Tapi ya sayang....”
Saya sembari memperlihatkan foto laki-laki itu di instagram. Ada hal yang menjadi pertimbangan ayah untuk memilih calon suami untuk saya. Saya tidak bisa sebut disini. Teman dekat saya dan mantan pacar saya juga tau. Kalau bisa diusahain bisa memenuhi syarat itu ayah bersyukur. Tapi kalau tidak ayah juga tidak memaksa, gimana nanti lah ke depan kata ayah menambahkan.
Saya berpikir dan melakukan ini karena ayah. Orangtua saya hanya tinggal ayah. Keputusan ada di ayah juga disamping dari diri saya sendiri, tapi ayah selalu bilang menikah itu mudah tapi menjalaninya yang sulit, apalagi kalau kita gak pilih-pilih. Kalau nanti rumah tangganya kacau karena hal tertentu gimana? Atau baru keliatan “sifat jeleknya” gimana? Apalagi kalau sudah memiliki anak, berat rasanya hari-hari dijalani jika banyak masalah seperti itu.
Saya selalu bersyukur kalau ayah masih ada dan selalu saya ceritakan soal hal macam ini. Beliau juga tau anaknya mau calon yang seperti apa dan bisa dalam pengambilan keputusan juga. Saya yakin, kalau suatu saat nanti ayah setuju dengan seorang laki-laki, pasti itu adalah laki-laki yang terbaik. Restu dari ayah, pasti Allah juga merestui kelak, insyallah ke depannya juga laki-laki itu bisa menjadi imam yang baik ke depannya untuk keluarga saya yang sakinah, mawwadah, dan warahmah aammiinn

Tidak ada komentar:

Posting Komentar