Kamis, 12 April 2018

Pecah pembuluh darah di otak

20 Juni 2015. Kira-kira hari kedua puasa di tahun 2015. Seperti biasa, saya tidur pukul 21.00. Pukul 02.00 mamah memanggil nama saya, saya pun terbangun dan bergegas ke bawah. Kebetulan kamar saya di atas dan kamar orangtua saya di bawah. Saya menuruni anak tangga lalu saya dapati pintu kamar ayah dan mamah sudah terbuka. Mamah sedang mengusap punggung ayah. Ayah menangis. Saya pun bingung. Tidak lama, pembantu dan dua adik saya bangun juga.
Mamah membuka obat lalu disuruhnya ayah meminum obat itu. Mamah pun langsung bilang kepada saya untuk membawa ayah ke rumah sakit. Saya diajak mamah untuk ikut. Saya pun bergegas langsung ganti baju, tidak lupa cuci muka dan gosok gigi terlebih dahulu.
Kira-kira pukul 02.10 kami pun pergi, hanya saya ayah dan mamah. Posisinya mamah yang menyetir, karena saya belum bisa. Ayah pun duduk di depan mendampingi mamah. Posisi duduk saya di belakang. Mamah membawa mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi, kisaran 70-80 km/jam. Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke Rumah Sakit Pertamedika Sentul. Kali pertama saya kesana. Saya baru tau ada rumah sakit di Sentul.
Saat memasuki gerbang rumah sakit, mamah langsung memberhentikan mobilnya di UGD. Ditanya oleh satpam dan ayah pun langsung dibawa masuk ke ruang UGD. Mamah mendampingi ayah bersama saya. Mobil pun diparkirkan oleh satpam.
Ayah diperiksa terlebih dahulu oleh dokter jaga di UGD. Saya hanya duduk di tempat tidur pasien yang kosong. Mamah terus mendampingi ayah. Saya melihat ayah terus menerus. Ayah hanya bisa pasrah dengan tatapan yang sedih. Lalu suster pun tensi tekanan darah ayah, tensinya cukup tinggi yaitu 220/170. Ayah pun dipasang alat khusus untuk memonitor tekanan darah, jadi nanti monitornya akan mengecek tensi ayah setiap 5-10 menit sekali.
Tidak lama dokter jaga pun menghampiri mamah dan menyuruh mamah untuk mengobrol dengannya. Diketahui saat diperiksa tadi, diagnosa awal ayah terkena stroke dan untuk mengetahui lebih dalam dan separah apa stroke nya kami pun harus segera melakukan berbagai pengecekan yang mendukung, seperti CT SCAN, X-Ray dll nya saya lupa apa saja yang saya ingat hanya itu.
Ayah pun dipasang berbagai macam alat ditubuhya. Infusan, oksigen, dan beberapa kabel yang saya tidak paham itu apa maksudnya. Mamah tetap setia mendampingi. Saya melihat mamah begitu lelah. Karena saat itu sedang bulan puasa, kami pun dikejar waktu untuk sahur. Jam sudah menunjukan pukul 03.00. Ayah pun segera di bawa ruangan khusus untuk CT-SCAN, kami hanya menunggu diluar dan tidak boleh masuk. Peralatan ayah yang berbau besi harus dilepas, jam tangan, cincin juga.
Kami menunggu diluar dengan harap-harap cemas. Tidak begitu lama saat ayah di periksa. Sekitar pukul 04.00 ayah sudah dibawa ke ruang UGD lagi. Dokter pun menyuruh mamah untuk berbicara. Ketahuan lah ternyata ayah mengalami PECAH PEMBULUH DARAH DI BAGIAN OTAK DAN PECAHNYA PEMBULUH DARAHNYA CUKUP BESAR. Dokter langsung mengambil tindakan untuk memasukan ayah ke ruang ICU saat itu juga. Mamah kaget, ingin menangis tapi ditahan, karena mamah tau kalau ayah liat mamah nangis pasti ayah makin sedih. Mamah pun segera mengurus administrasi sebelum ke ruang ICU dan saya mendampingi ayah. Ayah sempat bertanya kepada saya, sakit apa ayah. Saya hanya terdiam. Saya tau tapi saya pura-pura tidak tau.
Setelah mamah mengurus administrasi, ayah langsung siap-siap dibawa ke ruang ICU. Ayah sempat bertanya kepada mamah, akhirnya mamah menjelaskan bahwa ayah harus dirawat di ICU. Ayah langsung kaget dan tidak bisa berbuat apa-apa, yang ayah inginkan hanya sembuh dan kembali pulang ke rumah.

Selasa, 10 April 2018

Pemilih untuk bekerja dan menikah


Bersyukur hari ini masih dikasih kesempatan sama Allah untuk hidup. Bisa bernapas, bisa menunaikan shalat, sampai masih bisa bertemu keluarga itu yang patut kita syukuri setiap hari. Semakin hari umur kita semakin berkurang. Umur saya 22 tahun, menjelang 23 tahun di bulan Mei ini. Tentu banyak harapan yang ingin dicapai. Dua diantaranya yaitu kerja dan menikah.
Pemilih. Sebenarnya kerja bisa dimana saja, tapi ya balik lagi ke individu masing-masing. Dalam pikiran saya sih sering mikir macem gini,
“mau jadi apa sih gue?”
“dalam jangka waktu berapa lama nih jenjang karir gue harus naik”
Saya ingin sekali sekarang bekerja. Sudah pernah bekerja juga di salah satu bank swasta. Ada hal yang menyebabkan saya resign pada akhirnya dan saya berpikir sesuatu akan hal itu. Maka dari itu saya memutuskan untuk lebih selektif dalam mengambil pekerjaan.
Tidak hanya saya saja yang pemilih. Sifat “pemilih” diturunkan oleh ayah. Ayah termasuk orang yang sangat pemilih. Ayah sering bercerita kepada saya, kenapa ayah cukup lama untuk menikah, ya alasannya karena ayah memilih pasangan yang baik dan beberapa sudut pandang yang menurut ayah “cocok dijadikan pendamping hidup”.
Tidak hanya dalam pekerjaan. Dalam mencari pasangan menurut saya harus sifat “pemilih”. Kenapa kita harus pemilih juga? Baik bekerja dan menikah dilakukan untuk masa depan. Masa depan membicarakan hal jangka panjang. Tidak hanya berbulan bulan, 1 tahun 3 tahun tapi bertahun-tahun. Biasanya di perusahaan masa bekerja kita maksimal selama 25 tahun. Untuk menikah? Insyallah sampai hayat memisahkan.
Riskan sekali jika kita kadang terlalu pemilih. Ada pepatah yang mengatakan, terimalah kekurangan pasanganmu atau terimalah apa yang ada di depan matamu. Ya memang namun apa salahnya kita menunggu “sebentar” untuk mendapatkan yang terbaik. Saya selalu berpikir, saya lama mendapat pekerjaan. Tapi saya hubungkan lagi dengan masa-masa saat saya sudah bekerja di waktu itu di bank, ada beberapa keluhan dalam diri saya. Saya belajar, jika saya mengambil pekerjaan yang sama dengan yang lama, kejadian seperti ini akan terulang kembali. Saya berpikir untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, yang sesuai dengan passion saya.
Sama seperti bekerja, pasangan juga diwajibkan untuk memilih. Setiap orang berhak untuk memilih dan dipilih. Saya juga sama. Saya berpikir kepada teman-teman saya yang sudah menikah hidupnya “enak”. Kemana-mana berdua dengan suami yang sudah halal, kehidupannya juga seru gitu. Kadang pengen sih saya seperti itu. Rumah jadi lebih rame, ada anggota keluarga baru yang bisa menambah seru juga. Dalam “kacamata” saya juga seperti tidak ada beban. Apalagi yang sudah hamil, bahkan sudah memiliki anak.
Tapi namanya juga hidup, tidak melulu sesuai dengan rencana kita, kita sebagai manusia hanya bisa berencana, namun perencana yang baik dan segalanya hanya milik yang Kuasa. Saya mengerti betul rasanya sudah berharap akan “serius” dengan seseorang namun terhalang oleh restu orangtua. Kami pun akhirnya putus. Dalam jangka waktu yang tidak sebentar, kebiasaan yang tadinya berdua dengan pacar pun harus dijalani sendiri. Dari situlah say a berpikir realistis.
MENIKAH TIDAK HANYA MENYATUKAN SAYA DAN KAMU, TAPI KELUARGA KITA BERDUA.
Semenjak dari kejadian itu, saya jadi agak malas untuk berhubungan yang mengarah untuk “pacaran”. Takut sia-sia, sama seperti kejadian saya dahulu dan untuk pribadi saya, itu juga dosa. Saya yang tau porsi dosa saya, jadi kalau saya sekarang lebih berpikir untuk menghindari dosa juga itu hak saya. Kalau memang ada laki-laki yang menyukai saya dan mau “tanggungjawab” dengan  saya dan keluarga saya, ya datang saja ke rumah. Memang sih gak begitu tiba-tiba datang. Kita juga harus lebih berusaha, berdoa juga dan  berikhtiar.
Waktu itu ada cerita lucu pada saat saya ke acara jobfair Universitas Indonesia. Kebetulan saya waktu itu sendiri kesana untuk mencoba melamar kerja. Saya yakin rejeki sudah ada yang mengatur. Saya tidak berpikir aneh-aneh. Datanglah saya kesana. Sesampainya saya di UI, antrian sudah mengular panjang untuk sampai ke pintu masuk. Saya pasrah kan untuk mengantri, tidak lama ada panitia yang memberitahu untuk registrasi bisa dilakukan di handphone. Saya pun masih bingung dengan alamat websitenya, tidak sengaja saya menepuk tas belakang seorang laki-laki untuk bertanya. Dia menoleh. Setelah bertanya soal registrasi, dia mengulurkan tangannya kepada saya untuk berkenalan. Kami pun berkenalan. Sampai pada akhirnya laki-laki itu minta nomor whatsapp saya. inti dari ceritanya, dia tiba-tiba mengajak saya untuk jalan, sekedar nonton film atau minum kopi katanya agar lebih bisa DEKAT DENGAN SAYA. Saya pun kaget. Saya baru pertama kali bertemu tapi responnya terlalu cepat waktu itu. Dia juga menanyakan kepad saya soal kriteria calon suami seperti apayang saya inginkan dan dia mengatakan hal ini,
“gue liat lo pertama kali seneng. Lo orang yang ceria, murah senyum, baik, cewe yang kuat malah. Masa dari ui langsung ke Bandung gitu. Boleh dong ya gue jadi calon suami lo hahahaha”
Kaget ya. Pacar saya dulu aja gak ada omongan buat seserius ini, tapi orang lain dengan mudah berbicara seperti ini. Memang sih keliatannya becanda, tapi dia akhirnya serius karena memang sudah tidak mau lagi pacaran, ingin menikah juga dan kalau dilihat dari umur sih sudah cukup untuk umur menikah. Saya dan dia terpaut umur 3 tahun. Dia sekarang umur 25 tahun.
Keputusan sih ada di ayah. Kebetulan saat saya cerita kepada ayah, ayah menanggapinya dengan santai.
“nanti dulu teh, berteman baik dengan orang gak apa-apa, tapi kalau buat menikah kan banyak pertimbangan. Kalau dilihat dari orangnya sih baik, tanggungjawab, dewasa lagi. Tapi ya sayang....”
Saya sembari memperlihatkan foto laki-laki itu di instagram. Ada hal yang menjadi pertimbangan ayah untuk memilih calon suami untuk saya. Saya tidak bisa sebut disini. Teman dekat saya dan mantan pacar saya juga tau. Kalau bisa diusahain bisa memenuhi syarat itu ayah bersyukur. Tapi kalau tidak ayah juga tidak memaksa, gimana nanti lah ke depan kata ayah menambahkan.
Saya berpikir dan melakukan ini karena ayah. Orangtua saya hanya tinggal ayah. Keputusan ada di ayah juga disamping dari diri saya sendiri, tapi ayah selalu bilang menikah itu mudah tapi menjalaninya yang sulit, apalagi kalau kita gak pilih-pilih. Kalau nanti rumah tangganya kacau karena hal tertentu gimana? Atau baru keliatan “sifat jeleknya” gimana? Apalagi kalau sudah memiliki anak, berat rasanya hari-hari dijalani jika banyak masalah seperti itu.
Saya selalu bersyukur kalau ayah masih ada dan selalu saya ceritakan soal hal macam ini. Beliau juga tau anaknya mau calon yang seperti apa dan bisa dalam pengambilan keputusan juga. Saya yakin, kalau suatu saat nanti ayah setuju dengan seorang laki-laki, pasti itu adalah laki-laki yang terbaik. Restu dari ayah, pasti Allah juga merestui kelak, insyallah ke depannya juga laki-laki itu bisa menjadi imam yang baik ke depannya untuk keluarga saya yang sakinah, mawwadah, dan warahmah aammiinn

Sabtu, 07 April 2018

Untuk Ridzky

KALAU ADA SUKA BERANTEM, KALAU GAK ADA SUKA KANGEN. Pernah denger kata itu gak sih? Biasanya sama keluarga ngalamin kaya gitu. Saya juga pernah rasain itu saat ke mamah dan ke adik ke 2 saya. Kalau ke mamah bukan ke berantem, tapi suka gak mau kalau disuruh dan suka males kalau diomelin hehe kalau sama adik saya yang kedua, sering berantem padahal yang diributin itu hal kecil. Setelah makin berumur, makin ngerti “ngapain sih berantem padahal cuma gitu doang”.
Namanya juga penyesalan ya. Dulu saya bukan orang yang deket sama mamah, karena mamah tipe yang galak tapi sayang, yang bawel tapi ada benernya juga. tahun 2015 mamah dipanggil Sang Pencipta. Gak bisa bayangin saat itu “BENER-BENER GAK ADA YANG BAWEL, GAK ADA YANG MARAH KALAU TIAP PULANG LEBIH DARI 7 MALEM DAN GAK ADA YANG LAIN-LAINNYA.” Ngerasa banget sepi. Sekarang di rumah tinggal ber 4, sama ayah, aa dan caca. Gak ada mamah aja sepi banget, padahal kalau dulu masih ada mamah rumah tuh kaya rame banget. Berarti banget 1 orang gak ada di rumah bisa ngerubah suasana sampe sesepi ini.
KADANG SUKA MIKIR, KENAPA YA ALLAH NGAMBIL MAMAH CEPET BANGET. BELUM JUGA LIAT ANAKNYA LULUS, WISUDA, SAMPE NIKAH ATAU SEKEDAR PARENTING SOAL CUCUNYA NANTI.
Tapi saya baru belajar bersyukur saat tau ada orang yang lebih “sepi” dari saya. RIDZKY. Dia itu temen kelas saya pas kuliah. Gak lama mamah meninggal, ada kabar kalau orangtua Ridzky juga meninggal. Saya kira ibu ATAU bapaknya yang meninggal, tapi saya salah.Ternyata yang meninggal itu adalah Ibu dan bapaknya Ridkzy. SAYA DITINGGAL MAMAH AJA NANGISNYA SEDIHNYA BERLARUT-LARUT, GIMANA INI YANG DITINGGAL 2 ORANGTUA SEKALIGUS. Sempet nanya sama Ridzky kejadiannya gimana. Dan Ridzky mau cerita.
Pernah gak sih kalian denger, biasanya sih denger hal ini kalau lagi ada kajian pendalaman ESQ gitu, kayak kita dibawa buat nangis-nangis gitu dan mikir sesuatu biasanya soal orangtua atau keluarga kita. Saya pernah denger pas ada materi di SMA, motivatornya ngomong dengan kata-katanya gini, “COBA KALIAN BAYANGKAN SAAT KALIAN PULANG KE RUMAH, KALIAN MELIHAT BENDERA KUNING TERPAMPANG DI DEPAN RUMAH KALIAN. KALIAN BINGUNG, SAAT KALIAN MEMASUKI RUMAH, SUDAH BANYAK ORANG YANG BERDOA SEMBARI MENANGIS. KENAPA DI SAYA? SIAPA YANG MENINGGAL?—KALIAN DAPATIN TERNYATA YANG TERBUJUR KAKU DISELIMUTI KAIN BERWARNA COKLAT ITU ADALAH ORANGTUA KALIAN.”
Ridzky tau betul rasanya. Ridzky waktu itu sedang kuliah di Bandung dan dia mendapat kabar dari group smp, saat dia menanyakan ada apa ke kakanya, kaka-kakanya Ridzky tidak berani untuk memberi tahu. Yang penting saat itu, Ridzky harus segera pulang ke Karawang. Dia bingung kenapa semendadak itu, dia bertanya kepada kakanya namun kakanya tidak menjawab. Perasaan Ridzky bingung, dia pun langsung bergegas pulang. Waktu itu Ridzky diantar teman kelas saat kuliah dan teman nongkrong selama kuliah di Bandung. Begitu sampai di Karawang, dia bingung dan kaget sudah ada banyak orang di rumahnya, tidak lama ada mobil ambulance juga menghampiri rumahnya. Dia melihat ada keranda yang diturunkan dari mobil. Dia pun bertanya kepada kakanya dan kakanya tidak juga menjawab hanya menangis. Tidak lama ada mobil ambulance datang lagi ke rumahnya. Ada 2 mobil ambulance datang, Ridzky semakin takut. TERNYATA YANG ADA DI KERANDA ITU ADALAH IBU DAN BAPAKNYA. Saat ibu dan bapak Ridzky terbujur kaku dengan diselimuti kain kafan berwarna putih, Ridzky pun sudah tidak bisa melihat wajah kedua orangtua nya untuk terakhir kali. Hal ini disebabkan karena Ridzky cerita muka dari orangtua nya itu ada yang rusak. Namun Ridzky yakin orangtua nya meninggal dengan keadaan tersenyum menghadap Allah.
Ternyata penyebab meninggal ibu dan bapaknya Ridzky adalah kecelakaan. Kecelakaan itu terjadi di Purwakarta, saya dengar dari Ridzky saat itu ibu dan bapaknya hendak pergi ke suatu tempat. Ibu dan bapaknya Ridzky pergi menggunakan motor. Begitu setia ibunya Ridzky menemani bapaknya. Dan saat itulah takdir keduanya harus menghadap Sang Ilahi. Saat di perjalanan, ada sebuah CONTAINER yang kelebihan muatan posisinya di atas jalan. Kebetulan posisi motor ibu dan bapak Ridzky itu di bawah. Saat CONTAINER melaju dan kelebihan beban, materialnya itu jatuh ke bawah dan mengenai ibu dan bapaknya Ridzky. Saya dengar seperti itu, sempat dibawa ke rumah sakit namun nyawa keduanya tidak tertolong.
Saya yang mendengar cerita dari Ridzky seketika menangis ingat mamah kembali. Ridkzy juga saat menceritakan hal itu pada saya, matanya sudah berkaca-kaca, ingin menangis tapi saya tahu hal itu dia tahan. Coba kalian bayangkan, kalau kalian di posisi Ridzky. Saya saja yang ditinggalkan mamah sedihnya amat sangat, bagaimana ini seorang anak bungsu laki-laki yang DITINGGAL KEDUA ORANGTUANYA SEKALIGUS DALAM SATU WAKTU. Allah tau mana yang terbaik buat hambanya. Allah gak bakal kasih cobaan diluar batas kemampuan kita. Kita cuma bisa berusaha dan berdoa semaksimal mungkin. Kadang kita masih suka gak bersyukur, saya juga saat ada mamah males ini itu, giliran sudah tidak ada kerasa sekali. Bagaimana perasaan Ridzky yang ditinggal ibu dan bapaknya? Kakaknya sudah menikah. Dan dia tinggal sendiri sekarang. Ridzky cerita kepada saya, dia tipe anak laki-laki yang cukup manja kepada ibu bapaknya dan sekarang dia hanya bisa memendam “kemanjaannya” itu saja.
Kalau saya merasa kangen sama mamah, saya suka menghubungi Ridzky sekedar cerita. Ridzky selalu bilang, “WAJAR SIP KALAU LU KANGEN SAMA NYOKAP, GUE JUGA GITU KO. DOAIN AJA TERUS SIP. JADIIN SEMANGAT JANGAN TERPURUK”. Disitulah definisi bersyukur saya. Ada orang yang lebih merasakan “PAHIT” nya hidup sudah tidak ada ibu dan bapak, tapi masih bisa memotivasi orang lain.
Bersyukurlah kalian yang masih “sempet” dimarahin, diomelin, dicerewetin sama ibu dan bapak kalian. Rasanya saat mamah udah ninggalin keluarga, saya merasa omongan mamah benar. hal yang mamah suka bilang kepada saya atau wejangan jangan ini itu benar adanya. Bersyukur dengan hal kecil bisa membuat kita bisa lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang. Semangat buat Ridzky. Insyallah Allah tau kenapa hal ini terjadi sama kita ataupun orang lain diluar sana yang sudah tidak mempunyai ibu/bapak. Lebih menjaga keluarga satu sama lain, lebih menghargai waktu menghargai apa yang diucapkan dan LEBIH BERSYUKUR.

Minggu, 10 November 2013

Tanpa batas bersama yang tidak ada batasnya

Ya judul itu emang nentuin semuanya. Termasuk cerita apa yang akan diposting di blog ini. Tanpa batas bersama mereka, lebih tepatnya sih gitu. Gak semua hal dilakuin sesuka hati kita, pastinya ada aturan kan. Begitu juga dalam ke-tanpa batasan. Kalau main pasti ada waktunya sama halnya kaya belajar. Entah itu main sama cewek ataupun cowok, asal tau batas sih yak gapapa. Mulai dari senengnya, sebelnya, sedihnya, terharunya pokoknya semua sepaket jadi satu. Siapa lagi kalau bukan sama keluarga. Udah paling the best mereka tuh. Dan sebagai anak pertama dari anak bapak E.Hamdan dan ibu Ine Setiawantini gua merasa bahagia banget bisa dapet orangtua sebaik ini. Ditambah dua adik gua yang super super deh. Dan gak ketinggalan orang yang selalu bantu-bantu dirumah, eits jangan salah walaupun dia itu pembantu tapi udah gua anggep kaya kakak sendiri malah udah dianggep sodara, ya emang klop sama dia dan emang dia udah 8 tahun juga kerja dirumah kan. Udah mana dia baik ngerti sama aa yang notabennya gak bisa ngomong, tau banget soal kerluarga gua dan emang the best lah. Berutung punya mereka semua. Tiap waktu pasti ada ajaaaaaa rezekinya, alhamdulilah barakallah emang ya Allah itu Maha segalanya. Gak bisa diungkap betapa bahagianya gua sebagai orang yang memiliki mereka itu. Tanpa batas! Gua merasakan hal itu dalam diri gua dan itu rasanya AMAZING! "Terimakasih Ayah dan Mama yang selama ini selalu bimbing aku, ngajarin dari kecil shalat ngajarin buat baik sama orang pokoknya semua hal baik diajarin sama kalian." buat ayah sama mama "buat aa jadi anak laki-laki kebanggan ayah ya! walaupun kamu gak bisa ngomong sekalipun tapi kita sebagai keluarga ngerti selalu apa yang dimaksud. Emang kadang suka nyebelin sih tapi gemes bgt kamu teh. Paling sayang deh sama aa. Oiya kalau tiap malem jangan suka beli teh kotak sama es mulu. kebiasaan deh nanti sampe gede kamu mah-_- sekarang aja udah ganteng kaya ayah gimana gedenya cobaa ;;) sukses ya, A. semoga kita bisa banggain ayah sama mama dan jadi orang sukses amiiiin" "Kadang bawel. Jago ngomong sih, tapi nyebelin ih suka soktau. Tapi gapapa, semoga kelak kamu jadi orang yang berguna mengandalkan kepintaran kamu sama jago ngomongna kamu. Jgn suka sirikan sama kakak sendiri ya, Ca-_- walaupun gitu emang caca tuh paling bisa deh selalu ada hal baru yang kamu lakuin hohoho sayang deh sama kamu, ya emang sih kita sering berantem maklum kita sama-sama gak mau ngalah. Jadi gak sabar deh ngeliat kamu nanti pas smp atau sma. Kita kan mau tukeran barang ya. Kan kalau udah gede mah gak ketara gituuuu. Kan seru bisa tukeran barang sama ade sendiri. Skrg mah kamu masih sd, masih kecil kalau mau tukeran apa-apa sama kakaknya yang kuliah ini. Tunggu waktunya ya. Sukses ca!!" "Terimakasih teh lela udah 8tahun kerja dirumah, gak kerasa mulai dari caca belum lahir sampai sekarang udah kls 5 sd, masih aja yaaaaa teh lela betah disini. Tempat curhat yang enak dewasa pula, kadang juga sih suka cuek gitu pagi-pagi, tapi aslinya beuuuuh aku padamu deh teh hoho tahun depan kalau ayah udah pensiun semoga aja kalian udah pada pindah ke bandung ya. jadi aku ga perlu numpang dirumah sodara. gak enak juga kan. lagian emang enak tuh tinggal sama orangtua sih ya. Semoga tahun depan juga teh lela bisa nikah sama om iwan dan kalau bisa sih masih kerja dirumah juga. Dapet rumah di bandung, jadi kan enak bisa bulak-balik gak jauh amat gitu. pokoknya sukses juga buat teteh!" selalu ada cerita kalau sama mereka dan disinilah tanpa batas sesungguhnya, KELUARGA.

Minggu, 14 Juli 2013

ini keluargaku, bagaimana keluargamu?

Fix Telkom nih. Tinggal bayar semuanya besok dan tanggal 22 mau ke bandung sekalian mau test upi juga. Abis juga ngurus registrasi fisik Telkom. Berarti fix kuliah di bandung ya? Sekarang baru kerasa sedihnya. Gimana gak sedih ternyata jauh sama orangtua ade sama teh lela. Biasanya berantem dirumah. Teriak-teriakan dari atas sama caca gara-gara masalah sepele, kadang suka pura-pura tidur kalau dipanggil mama. Suka manjat atas beranda sama teh lela malem-malem. Banyak pokoknya. Gua sebagai anak sulung yang paling manis akan memperkenalkan pada kalian siapa keluarga gua. Dimulai dari ayah. Ayah yang bernama lengkap E.Hamdan suka gua panggil pak kumis. Kata orang ayah tuh masih keliatan muda banget. Iyalah! Gimana gak keliatan muda dandanan aja kayak anak kuliahan, Cuma bedanya ayah udah ada uban sedikit. Oiya! Kalau soal uban ayah emang paling ngerti. Tiap minggu kudu cabut uban sama teh lela, dasar gak mau keliatan tua tuh ayah. Udah mana pas gua wisuda sma eh ayah Cuma pake kemeja sama jeans kacamata dan udah aja. Anak muda gak sih? Gua foto berasa bukan sama bokap, tapi lebih ke pacar-_- kalau soal agama ayah emang imam yang paling the best. Dari kecil gua didik gak lupa shalat, ngaji dan emang islami tapi gak fanatik ko. Ayah paling bawel soal gua kuliah. Dia rela ngeluarin uang berapa aja asal anaknya kuliah setinggi langit. Dan yang paling penting ayah paling sayang sama aa<3 Mama itu orangnya tegas. Di kantor paling ditakutin lhooo. Kepala cabang yang bener-bener taat aturan. Gak di kantor gak di rumah. Kalau udah galak mah serem boooo. Kayak pas gua balik malem waktu itu dimarahin abis-abisan. Ya namanya juga orangtua sih ya, emang mau anak cewek apalagi pulang malem…..khawatir lah. Salah gua juga sih, maap ya mah hehehe mama tuh bawel kalau soal apapun. Termasuk soal pacar! Waktu SD gua pernah pacaran. Dan ketauan smsnya sama mama, langsung itu mah gua didiemin dirumah berapa hari ya. Gua dimarahin masih kecil ludah pacaran gitu. Gua suruh putus lah sama pacar gua itu. Dan mama masih suka ledek sampe sekarang, “ka gimana sama pacar SD kamu tuh yang kacamata” zzzzzz udah 6taun masih weh dibahas  tapi gitu-gitu mamah paling sayang sama gua aa dan caca lhooooo. The best lah pokoknya. Ayah sama mama punya anak gua sebagai anak pertama. Aa dan caca. Aa itu bukan kaka. Tapi karena dia cowok satu-satunya jadi dipanggil aa. Dari bayi emang dia gak normal. Kata dokter sih DOWNSINDROME kena TUNAGRAHITA. Tunagrahita itu semacam gak bisa ngomong sama kurang bisa denger, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. Maka dari itu aa disekolahin di SLB atau sekolah luar biasa. Tapi aa Cuma sekolah sampe smp, soalnya kebetulan waktu itu sodara gua yang ngurus aa gak bisa ngurus dia lagi. Dan kalaupun mau diurus sama orang lain takut gak keurus aanya. Ya jadi aa sekarang diem dirumah terus. Kadang orang ngeliat aa suka gak biasa. Mungkin mereka gak pernah liat anak kayak gitu. Tapi gua sebagai kakak harus ngejagain ade lah. Kalau ada yang ngeliatin gitu langsung gua samper orangnya. Pernah waktu itu ada ibu-ibu ngeliatin gak nyelow, langsung gua bilang, “bu gak usah diliatin kali. Gak biasa banget sih ngeliatnya” gua gak segan ngomong kaya gitu kalau ada orang yang gak nyelow atau ngomongin ade gua sendiri. Dan emang ayah selalu bilang “teteh kalau kasar sama aa sama aja kaya teteh kasar sama ayah” itu yang paling ngebuat gua sayang sama aa. Dia paling akur ya sama gua ketimbang caca. Kalau aa sama caca disatuin mereka kaya kucing sama anjing. Walaupun aa punya keterbelakangan tapi dia punya naluri perasaan segala macem ya dia paling sayang juga sama gua segimana gua sayang banget sama dia. So sweet kan? Hehehehe Caca! Gua paling gak bisa akur sama dia. Mungkin karena terlalu sayang sama aa jadi sayang ke cacanya kurang. Iya gak sih ngaruh? Tapi emang kayanya gitu. Kalau akur ya kalau dibeberapa kesempatan aja. Bentar baikan bentar berantem. Tapi yang gua suka dari caca dia tuh pinter ngomong. Padahal baru kelas 5 SD. Dirumah yang sering debat tuh ayah sama caca. Ayah orangnya kan suka becandaan dan caca seriusan. Jadi suka dijailin gitu sama ayah. Debat lah soal apapun! Gandeng tuh dirumah denger mereka debat. Kadang caca gak mau kalah. Kadang itu anak suka ngebohong sih. Ya namanya juga anak kecil ya, dimaklumin aja. Cuma emang kalau bandingin gua sama caca, caca emang menang rajin. Masa yang bungkusin buku pelajaran gua si caca. Mana rapi banget lagi, gua mah boro bisa serapi dia. Si mungil satu ini ikut gen ke mama kayanya, soalnya emang postur tubuhnya agak kecil beda sama anak kelas 5 SD lainnya. Kalau gua kan ikut ke bokap tinggi berisi gitu badannya, kalau caca ya ikut ke mama. Bener-bener ngerasa kangen sama caca pas lagi studytour. Waktu itu studytour ke jogja-bali selama 8hari. Kebetulan berangkat 24 Juni dan tanggal 28 juni caca ulangtahun. Itu gua kasih ucapin lewat telfon ke dia sembari nangis, abis itu temen-temen gua dibis pada nyanyiin ulangtahun gitu buat dia. Dan pas ditanya mau kado apa dia bilang, “gausah kado ka, kakak pulang aja sini” diem-diem ya lu ca buat gua terharu. Masa kita kudu jauh dulu sih baru so sweet gitu?  hahahah Oiya! Dirumah karena aa gak sekolah juga dan gak ada yang ngurus ini itu makanya kita ada pembantu. Kenalin namanya teh lela. Doi pembantu paling gaul yang pernah ada. Tau ga? teh lela aja pernah punya bb bold. Gua? Bb aja baru dibeliin kelas 2 sma, itu juga yang Gemini. Beda kan sama teh lela? Terus sekarang dia mau beli tab rencananya bareng gua. Atuuuuhlaaaah. Gaul kan? Gak Cuma itu, dandanan juga beda dari pembantu biasanya. Malah kalau lagi belanja berduaan teh lela suka ngeborong gitu lebih dari gua. Udah kayak kakak sendiri sih. Udah mana kamar kan berhadapan gitu, kalau mau curhat tinggal ke kamarnya kalau lagi galau kadang teh lela ke kamar gua atau sebaliknya. Doi emang pembantu paling semangat diantara pembantu gua yang lain. Kalau ditung-itung sih udah 8tahun teh lela kerja dirumah gua. Udah mana tau karakter keluarga gua banget kan jadi ya udah deket banget. Dari pas SD juga gua pernah main ke rumahnya makan baso sama temen-temennya. Oiya jangan dikira temen-temen teh lela cakep semua. Anak kuliahan lagi waktu itu sekarang sih udah pada kerja udah pada punya istri dan anak lagi. The lela? Lagi nunggu waktu buat nikah sama cinta pertamanya tuh, om iwan. Yah kalau teh lela nikah nanti dirumah ada siapa? Udah pada klop sama doi soalnya huhuhu Ini baru sebagian kecil cerita dari banyak cerita kami dirumah. Nanti kan gua kuliah di bandung ya tinggal dirumah nenek dan emang bakal jauh sama kalian. Ya lebay sih. Emang bisa ditengok ke bandung atau gua ke bogornya tapi kan ongkos juga sayang. Tapi katanya sih nunggu 1 atau 2 tahun lagi ini pada mau pindah ke bandung. Doain aja dapet rumah yang murah di bandung gitu. Jadi kan enak gua bisa sama keluarga dibandung. Lagian ayah pensiun 1tahun lagi. Kalau pindah ke bandung kan ayah jadi gampang mau pulang kampung ke garut juga. 3 jam juga nyampe. Di bogor mah apa atuh gak punya sodara. Emang bukan asli orang bogor sih jadi ya mau pindah lagi ke bandung. Ayah sama aa bisa bulak-balik bandung-garut. Nanti di garut katanya ayah mau ngabisin masa pensiun dengan beternak nanem padi di sawah dan lain-lain, kebetulan ada rumah juga kan di garut banyak sodara juga kan. Nanti mama paling dipindahin kantornya di bandung. Caca mau gak mau harus sekolah di bandung hahahahaha dan teh lela bisa ko ketemu suaminya nanti kalau tetep kerja di bandung. Ya kan? Dan gua bisa serumah dengan mereka semua lagi. Semoga jadi ya amiiin